Surabaya, JatimMaju.Com – Akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera dan Kalimantan, penjualan produk premium plastic ware, Moorlife ikut terdampak. Penjualan di dua wilayah tersebut mengalami penurunan signifikan hingga 50 persen.
Direktur Marketing Moorlife, Nurlaila Hidayaty, mengatakan penjualan di wilayah terdampak, khususnya Sumatra dan Kalimantan, mengalami tekanan hingga sekitar 50 persen. Hal ini terjadi karena aktivitas masyarakat ikut terganggu sehingga turut memengaruhi pola penjualan Moorlife yang mengandalkan pemasaran secara langsung.
“Wilayah Sumatera dan Kalimantan itu mengcover sekitar 50 persen market Mootlife. Memang terdampak. Tapi tidak mati total. Penjualan kami tidak melalui market place, tapi direct selling, jadi dampaknya terasa,” ujar Nurlaila saat kegiatan donor darah Moorlife, Kamis (10/9).

Meski demikian, kondisi tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah. Sulawesi, misalnya, masih menunjukkan kondisi yang relatif aman dan stabil. Moorlife saat ini memiliki sejumlah kantor di wilayah tersebut, termasuk dua kantor di Makassar dan kantor di Kendari.
Dia mengaku, kinerja penjualan Moorlife tahun 2026 masih terbantu oleh capaian pada April. Penjualan pada April menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini, bahkan mencatatkan level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Penjualan pada April 2026 tercatat dua kali lipat dibandingkan rata-rata penjualan pada Januari hingga Maret. Kinerja tersebut membantu menutup pelemahan penjualan yang terjadi setelahnya sehingga secara year to date (YTD), performa perusahaan masih dalam jalur target.
“Karena itu, tahun ini kami masih optimis penjualan minimal bisa sama dengan pencapaian tahun lalu. Hal ini terbantu saat bulan April mencatat sales tertinggi di tahun ini. Bahkan di tiga tahun terakhir itu paling tinggi,” katanya.
Sebagai gambaran, Moorlife pada tahun lalu mencatatkan pertumbuhan hampir 50 persen dibandingkan tahun 2024. Dengan kondisi bisnis tahun ini yang masih menghadapi berbagai tantangan, perusahaan berharap dapat mempertahankan capaian tersebut.
Dorong Produk untuk Generasi Muda
Selain melakukan penyesuaian pemasaran di wilayah terdampak bencana, Moorlife juga mengandalkan inovasi produk untuk menjaga pertumbuhan penjualan. Tahun ini pihaknya meluncurkan produk yang menyasar konsumen generasi muda melalui strategi NextG.
Strategi tersebut ditujukan agar Moorlife tidak hanya dikenal sebagai merek produk rumah tangga oleh konsumen perempuan atau ibu rumah tangga, tetapi juga semakin relevan bagi generasi milenial dan Gen Z.
Salah satu produk yang diperkenalkan adalah tumbler stainless steel yang diklaim mampu mempertahankan suhu panas hingga 12 jam dan suhu dingin hingga 24 jam.
Selain tumbler, Moorlife juga meluncurkan sejumlah produk baru seperti Moira, Srafia, dan Yuma. Produk-produk tersebut dirancang untuk menunjang aktivitas konsumen muda, termasuk kebutuhan membawa makanan dan minuman saat beraktivitas di luar rumah.
“Harapannya produk-produk ini, brand Moorlife itu tidak hanya dikenal sama emak-emak. Kita juga ingin generasi muda merasa bahwa ini produknya mereka,” ujar Nurlaila.
Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Kontribusi produk yang menyasar segmen muda terhadap penjualan Moorlife sebelumnya baru berada di kisaran 1-2 persen. Kini kontribusinya disebut telah meningkat hingga mendekati 10 persen setiap bulan.
Sementara itu, pangsa pasar Gen Z terhadap Moorlife saat ini masih sekitar 5 persen. Namun, perusahaan melihat potensi pertumbuhan dari sisi keanggotaan. Jika sebelumnya rata-rata usia member Moorlife sekitar 35 tahun, kini banyak member berusia sekitar 26 tahun.
“Harapannya bisa kembali normal, supaya end of year ini kita bisa capai target,” ujar Nurlaila. jtm/tar





