Gresik, JatimMaju.Com – PT Orela Shipyard anak usaha PT Pelayaaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) menambah kapasitas produksinya dengan investasi baru sebesar Rp 50 miliar. Sumber dananya dari internal dan pinjaman bank.
Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing perusahaan di tengah ketidakpastian industri maritim global serta perkembangan teknologi yang semakin pesat, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Technical and Development Director PT Orela Shipyard, Soegeng Riyadi, mengatakan keberadaan regulasi pemerintah yang mendorong pembangunan kapal di dalam negeri menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan industri galangan nasional.
“Ketika shipping company akan membeli kapal dari luar negeri, mereka harus memiliki komitmen agar sisa kapal lainnya dibangun di dalam negeri. Ini salah satu komitmen pemerintah untuk industri perkapalan di Indonesia,” ujarnya, Selasa (8/9).

Di sisi lain, Orela Shipyard juga melihat kesiapan SDM sebagai faktor penting untuk menghadapi perubahan teknologi di industri galangan kapal.
Untuk itu, perusahaan menggandeng sejumlah perguruan tinggi negeri yang memiliki kompetensi di bidang teknik perkapalan, di antaranya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS).
Kolaborasi tersebut mencakup program pemagangan hingga penelitian dan pengembangan teknologi. Dengan kerja sama tersebut, pengembangan teknologi di lingkungan galangan diharapkan dapat dilakukan secara lebih luas melalui sinergi antara industri dan dunia pendidikan.
“Langkah kolaborasi ini mencakup program pemagangan hingga riset bersama agar pengembangan teknologi galangan tidak hanya bergantung pada riset mandiri,” kata Soegeng.
Tak hanya SDM, perusahaan juga tengah menyiapkan investasi besar untuk memperkuat fasilitas produksinya. Dalam enam hingga 12 bulan mendatang, Orela Shipyard berencana melakukan perombakan serta modernisasi infrastruktur dengan nilai investasi sekitar Rp50 miliar.
Investasi tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan alur produksi secara menyeluruh, termasuk penambahan dan modernisasi sejumlah peralatan berat seperti gantry crane, mesin sandblasting otomatis, serta welding gantry.
Soegeng mengatakan penggunaan mesin modern diharapkan dapat mempercepat proses produksi sekaligus meningkatkan kapasitas pengolahan baja.
“Dalam output produksi, kontribusi mesin mencapai 30%, human resource 40%, dan metode atau engineering 30%. Investasi mesin dan peralatan ini akan mempercepat sekaligus meningkatkan kapasitas produksi kami secara signifikan,” jelasnya.
Melalui penguatan fasilitas tersebut, Orela Shipyard menargetkan kapasitas pengolahan baja meningkat dari sekitar 300 ton per bulan menjadi 450 ton per bulan pada 2027. Jika target tersebut tercapai, kapasitas pengolahan baja perusahaan akan mencapai sekitar 6.000 ton per tahun.
Sementara itu, Direktur Produksi PT Orela Shipyard Heri Kurniawan mengatakan aktivitas produksi perusahaan saat ini cukup padat. Setidaknya terdapat 13 unit kapal yang tengah dikerjakan.
Dari jumlah tersebut, lima unit merupakan kapal berbahan baja, termasuk escort tug, yacht, dan landing craft tank (LCT). Sementara delapan unit lainnya merupakan kapal berbahan aluminium, seperti crewboat dengan berbagai ukuran dan pilot boat.
“Sebagian dari proyek kapal aluminium tersebut diperuntukkan bagi pasar ekspor ke wilayah Timur Tengah dan Taiwan,” ujarnya.
Orela Shipyard juga bersiap mengerjakan proyek baru berupa pembangunan Platform Supply Vessel (PSV) dengan ukuran panjang 86 meter, lebar 20 meter, dan tinggi 27 meter.
Proyek tersebut menjadi salah satu proyek strategis yang akan mendorong peningkatan kemampuan produksi perusahaan, terutama dalam mengerjakan kapal dengan ukuran dan tingkat kompleksitas yang lebih besar.
Dengan jumlah proyek yang terus berjalan dan tambahan pesanan baru, tingkat pemesanan kapasitas produksi Orela Shipyard tercatat telah penuh hingga 2030. jtm/dan






