Home / Investasi / Perkuat Rantai Pasok, PIM Pharmaceuticals Resmikan Produksi Eksipien Pharma Grade Pertama di Indonesia

Perkuat Rantai Pasok, PIM Pharmaceuticals Resmikan Produksi Eksipien Pharma Grade Pertama di Indonesia

Prigen, JatimMaju.Com — PT PIM Pharmaceuticals secara resmi meresmikan Fasilitas Produksi Eksipien Pharma Grade pertama di Indonesia, sebagai langkah awal untuk mengurangi ketergantungan industri farmasi terhadap impor.

Sebagai salah satu komponen penting dalam formulasi obat, eksipien berperan dalam mendukung proses pembuatan serta menjaga stabilitas, kualitas, dan karakteristik sediaan farmasi.

Untuk digunakan dalam industri farmasi, eksipien harus memenuhi persyaratan mutu pharmaceutical grade serta diproduksi melalui proses dan fasilitas yang memenuhi standar yang ditetapkan.

Fasilitas ini telah memperoleh sertifikasi Cara Pembuatan yang Baik untuk Eksipien (CPB Eksipien) dari BPOM RI dan memproduksi PIMSTARCH 200 berbahan pati jagung serta PIMSTARCH 100 berbahan pati singkong.

Peresmian dihadiri oleh dr. William Adi Teja, MD., BMed., MMed., Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif BPOM RI; Bayu Wibisono, S.Si., Apt., M.A.B., Direktur Pengawasan Distribusi dan Pelayanan Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor; Yudi Noviandi, M.Sc.Tech., Apt., Kepala Balai Besar POMdiSurabaya; serta jajaran Direksi PT PIM Pharmaceuticals.

Direktur Utama PT PIM Pharmaceuticals, Tirta Kusuma, menyampaikan bahwa fasilitas ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memperkuat kemampuan industri farmasi nasional.

“Selama ini kebutuhan eksipien di Indonesia masih banyak bergantung pada impor.  Melalui fasilitas ini, kami berkomitmen untuk mengembangkan produksi eksipien berkualitas pharmaceutical grade di dalam negeri. Ini merupakan langkah awal PIM untuk terus mengembangkan bahan baku dan teknologi farmasi Indonesia.” Kata Tirta saat peresmian produksi eksipen PT PIM Pharmaceutical di Prigen, Pasuruan, Kamis (8/10).

PIMSTARCH 100 dan PIMSTARCH 200 dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan industri farmasi dan dapat digunakan dalam formulasi tablet sebagai bahan pengisi maupun pengikat.

Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri farmasi nasional, meningkatkan penggunaan eksipien produksi dalam negeri, serta membuka peluang pengembangan berbagai eksipien pharmaceutical grade lainnya di Indonesia.

Dia mengaku kapasitas produksinya mencapai 6.000 metrik ton per tahun. Dari jumlah tersebut sekitar 25-30 metrik ton digunakan untuk kebutuhan industrinya sendiri. Sementara sisanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan industri pharmasi di dalam negeri.

“Semua bahan bakunya dari lokal. Indonesia memiliki bahan baku singkong dan jagung melimpa. Namun kami pilih memenuhi standard untuk diolah menjadi eksipen yang pharmaceutical grade,” ujar Tirta.

Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif BPOM, William Adi Teja, mengatakan pengembangan eksipien dalam negeri menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem industri farmasi nasional.

Dalam industri farmasi, eksipien memiliki peran penting dalam formulasi obat. Penggunaannya juga harus memenuhi persyaratan mutu dan standar produksi tertentu agar dapat digunakan dalam produk farmasi.

William menilai pengembangan industri eksipien lokal menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri. Terlebih, industri farmasi Indonesia selama ini masih mengimpor eksipien dari berbagai negara, termasuk negara-negara di Asia dan Eropa.

Menurut dia, penerapan standar terhadap eksipien juga perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat kematangan industri farmasi di Indonesia.

“Memang pada dasarnya kita berharap suatu hari nanti semua industri farmasi itu akan menggunakan eksipien yang sudah terstandar untuk mendapatkan GMP tersebut,” ujar William.

Saat ini penerapan standar tersebut belum serta-merta bersifat wajib bagi seluruh industri farmasi karena tingkat kesiapan masing-masing industri berbeda. Namun, penguatan standar tetap diarahkan agar kualitas bahan yang digunakan dalam produksi obat semakin terjamin.

Di sisi lain, William mengingatkan aspek harga harus menjadi perhatian. Penguatan industri eksipien domestik jangan sampai justru membuat produk lokal kalah bersaing dengan eksipien impor.

“Selama ini kita masih impor eksipen 8.000 metrik ton per tahun. Sebab itu, industri dalam negeri harus terus didorong memproduksi sendiri. Tapi harganya diperhatikan. Jangan sampai nanti malah kalah bersaing dengan industri atau eksipien yang dari impor,” kata William. jtm/har

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *