Surabaya, JatimMaju.Com – Perekonomian Jawa Timur menunjukkan kinerja positif hingga triwulan III 2026. Secara kumulatif, ekonomi provinsi ini tumbuh 5,83 persen, sekaligus menjadi yang tertinggi dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,45 persen.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, capaian tersebut mencerminkan kuatnya aktivitas ekonomi masyarakat yang ditopang berbagai sektor, mulai dari industri, perdagangan, pertanian hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Alhamdulillah, secara kumulatif hingga triwulan III 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,83 persen, melampaui nasional dan menjadi yang tertinggi se-Pulau Jawa. Capaian ini merupakan hasil kerja bersama para pelaku usaha, pekerja, petani, nelayan, UMKM, serta seluruh masyarakat Jawa Timur,” kata Khofifah di Surabaya, Sabtu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur yang dirilis pada Kamis (5/11/2026), pertumbuhan ekonomi Jatim berada sedikit di atas Jawa Tengah yang mencapai 5,82 persen dan Jawa Barat sebesar 5,81 persen.
Selanjutnya, DI Yogyakarta tumbuh 5,80 persen, DKI Jakarta 5,66 persen, dan Banten 5,62 persen.
Khofifah mengapresiasi kontribusi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga aktivitas produksi, perdagangan, investasi, serta konsumsi. Namun, menurut dia, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari besarnya angka pertumbuhan.
Pemerintah juga perlu memastikan dampaknya dirasakan masyarakat melalui peningkatan kesempatan kerja, berkembangnya usaha produktif, serta terjaganya daya beli rumah tangga.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Timur dengan kontribusi sebesar 31,26 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Sektor perdagangan menyusul dengan kontribusi 18,37 persen, sedangkan pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 11,12 persen.
Ketiga sektor utama tersebut mencatatkan pertumbuhan positif. Industri pengolahan tumbuh 5,95 persen, perdagangan 6,23 persen, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 4,01 persen.
Sementara itu, sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan 8,18 persen. Adapun pertumbuhan tertinggi berdasarkan lapangan usaha berasal dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang mencapai 11,29 persen.
Kinerja sektor akomodasi dan makan minum tersebut didukung penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala lokal maupun nasional, serta meningkatnya realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Jatim dengan kontribusi mencapai 60,60 persen dan pertumbuhan 5,72 persen.
Di sisi lain, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik tumbuh lebih tinggi, yakni sebesar 8,37 persen. Kondisi tersebut menunjukkan adanya penguatan aktivitas investasi yang diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi dan membuka lapangan pekerjaan.
“Daya beli masyarakat harus terus kita jaga. Pada saat yang sama, kita perlu memastikan investasi yang masuk dapat memperkuat kapasitas produksi dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat Jawa Timur,” ujar Khofifah.
Secara tahunan atau year-on-year (y-on-y), ekonomi Jawa Timur pada triwulan III 2026 tumbuh 5,82 persen. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,47 persen.
Sedangkan secara triwulanan atau quarter-to-quarter (q-to-q), perekonomian Jatim tumbuh 1,80 persen dibandingkan triwulan II 2026.
Pertumbuhan ekonomi tersebut turut diikuti perbaikan kondisi ketenagakerjaan. BPS mencatat jumlah penduduk bekerja di Jawa Timur pada Agustus 2026 mencapai 24,36 juta orang atau bertambah 559,62 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 3,60 persen.
Khofifah menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting agar masyarakat dapat mengambil manfaat dari pertumbuhan ekonomi. Karena itu, penguatan kompetensi tenaga kerja perlu berjalan beriringan dengan pengembangan usaha produktif.
Dia juga mengajak pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk memperkuat sinergi dalam menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir 2026.
“Terima kasih atas kerja keras dan kontribusi seluruh masyarakat Jawa Timur. Mari kita jaga momentum ini dengan memperkuat usaha produktif dan memperluas kesempatan kerja, agar pertumbuhan ekonomi semakin merata manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat,” katanya. jtm/gus

